Mana Lebih Parah? Dokter atau Rumah Sakit?

Hai Guys…

Tadi abis baca path temen yg ngedumel ttg dokter, jadi tertarik utk sharing nih. Apalagi sekarang lagi rame masalah pasien yg ditolak rumah sakit sehingga gak kepegang dan akhirnya meninggal dunia.

Beberapa minggu lalu seorang kawan berbagi cerita. Adiknya jatuh dari motor dan mengalami masalah dgn tulang tangannya. Ia pun membawa adiknya ke sebuah RS Negeri. Maaf, gak usah komplit nyebut nama RS nya ya. Nanti saya diPritakan lagi. Kecuali ini kejadian yang langsung menimpa saya.

Singkat cerita, adiknya harus dioperasi untuk merapikan kembali posisi tulangnya. Keajaiban pertama, pihak RS dengan gampangnya mengatakan bahwa ini bukan prioritas dan adik teman saya diminta untuk melakukan operasinya lain waktu saja. Kebayang kan orang mau cepet sembuh trus ditolak? Usut punya usut, karena ruang kelas 3 RS itu ‘penuh’ dan adik teman saya diminta naik minimal ke kelas 1. Dodol ya?

Ada satu lagi mengenai dokter bedah. Saat diperiksa, adik teman itu memakai dokter ahli bedah yg memiliki reputasi di RS tersebut. Nah, kalau dia mau dioperasi oleh dokter yang sama, ada syaratnya. Yaitu harus tambah biaya operasi 1 juta rupiah. Syarat kedua, kalau mau dikunjungi pasca operasi oleh dokter bersangkutan, pasien harus dirawat di ruang VIP. Jooosss…

Akhirnya teman saya membawa adiknya ke Pertamina. Kalau yg ini boleh disebut ya namanya. Memang mahal, tapi sudah ketauan hasil dan reputasinya. Daripada RS negeri yang banyak alasan itu, alasannya menahan ketawa kecut.

Lantas, kalau sudah begini siapa yang salah? Adik teman saya yang jatuh dr motor karena ditabrak orang baru belajar bawa motor? Atau kakaknya yang bawa dia ke RS negeri dgn harapan biayanya murah?

Pihak RS? Mereka kan cuma jalanin ‘bisnis’ yg uangnya didapat dari orang-orang sakit. Orang-orang yg terpaksa datang karena butuh pengobatan. RS kan butuh biaya operasional. Belum lagi target ‘keuntungan’ dari perusahaan jasa menyembuhkan orang tersebut. Gak heran sih kalau sampe sebuah klinik Tong Kang sekalipun bisa panen besar.

Atau dokter bedah nomor wahid tersebut? Ah, dia kan manusia setengah dewa. Tangannya diberi kuasa oleh Allah SWT untuk dapat menyembuhkan orang sakit. Biaya belajarnya sudah mahal. Pantas dong kalau biaya jasanya mahal. Kalau gak ada tangan dia, berapa ratus orang yang nyawanya tak terselamatkan.

Alasan saya di atas terdengar satir. Tapi itu faktanya. Di negara sinting ini sakit itu mahal. Maka bersyukurlah kita yg diberi nikmat kesehatan.Trus kalau akhirnya sakit juga? Welcome to the jungle deh, kata om Axel Rose.

Memang, saya percaya msh ada RS dan dokter yg pnya hati nurani. Saya punya teman wanita cantik. Panggilannya Lynna, dan dia punya lesung pipi. Ups, sori ngelantur. Dia sekarang menjadi dokter umum di Puskesmas Cengkareng. Saat saya tanya kok gak tugas di RS gede atau jadi spesialis bu? “Ah, gue lebih suka di sini San. Bisa bantu banyak orang tanpa harus mikirin ini itu. Kalau orang-orang itu bisa sembuh, gue puas dan bangga jadi dokter.”

Tuh kan masih ada dokter yg baik spt teman saya bu Lynna itu. Tapi berapa jumlahnya ya? Ah, yg penting masih ada. Toh Robin Hood juga cuma ada satu. Atau kita salahin Robin Hood aja? Kalau dia gak ada, orang gak pernah tau rupanya malaikat penyelamat bertubuh manusia kan? So, biaya mahal RS pun gak masalah kan? Toh, ga ada orang mulia di negeri ini.

Ah sudahlah, jadi ngelantur. Saya mau sholat Maghrib dulu. Ini juga sekadar sharing kok Guys. Enjoy your wiken ya.

 

Regards

Santo

Categories: notes, sharing | Tags: , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: