Surat Dari Cupid

Dear manusia

Sebelumnya perkenalkan dahulu, nama saya adalah cupid. Terdengar asing tentunya bagi kalian. Tapi tidak bagi yang pernah jatuh cinta. Saya adalah seorang peri. Peri cinta tepatnya. Tugas saya cuma satu, membantu manusia yang jatuh cinta untuk memanah busur asmaranya. Tidak ada lagi yang lain.

Setiap hari ratusan orang saya bidik hatinya. Saya hujamkan panah asmara pada mereka. Dilihat dari jumlah manusia yang ada, saya tidak bekerja sendiri. Cupid cupid lain membantu saya dengan tugas serupa.

Dengan suka cita saya melakukan tugas di atas. Alangkah bahagianya bukan jika kita dapat membuat orang jatuh cinta? Karena saya yakin, cintalah yang membangun kehidupan di dunia ini.

Tapi beberapa hari ini saya jadi malas bekerja. Saya takut berbuat salah. Sesuatu yang tidak boleh terjadi karena saya adalah peri. Pekerjaan saya selalu benar adanya. Namun saya bingung dan oleh karena itu surat terbuka ini saya tulis. Tolong ya dibaca dengan seksama agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara kita.

Berawal dari kejadian tiga hari lalu. Saat itu sore hari dan Jakarta terasa lebih sejuk karena habis diguyur hujan deras. Di atap gedung GKBI saya bersantai bersender di atas sebuah menara radio. Panah asmara saya gantungkan di menara. Di bawah terhampar pemandangan jembatan Semanggi yang hiruk pikuk oleh orang pulang kantor. Meski ada 3 ini 1, tetap saja jalan tidak bisa menampung lautan kendaraan yang ada.

Dalam lamunan saya dikagetkan oleh suara wanita.

“Hey stupid, sini kamu!!!”

Awalnya saya tidak peduli karena bukan nama saya yang dipanggil.

“Hey stupid cupid! Turun sini kamu!!!” ujarnya lebih keras.

Merasa disebut namanya, saya pun menoleh ke bawah. Heran juga mengapa ia bisa melihat saya. Bukankah dunia kami berbeda?

Tampak seorang wanita menunjuk ke arah saya sembari berkacak pinggang. Sedikit malas saya berdiri. Sayap putih saya rentangankan dan perlahan turun menghampirinya. Sedikit kaget ia melihat saya terbang dan mundur dua langkah untuk memberi saya ruang mendarat.

Rasa kaget yang menyelimutinya belum hilang juga. Saya perhatikan rupanya. Cukup cantik. Usianya sekitar 26-28 tahunan. Tidak terlalu putih namun bersih dan terawat wajahnya. Hidungnya mancung walau tidak sebangir gadis blasteran eropa. Rambut panjang hitam tergerai indah dengan sedikit ikal di ujungnya.

Ia tidak terlalu tinggi, ya sekitar 165 cm lah. Tubuhnya terlihat proporsional dengan celana bahan hitam mengikuti lekuk kaki dan pinggangnya. Sedangkan kemeja putih dimasukkan ke dalam celana dan sedikit membentuk tubuhnya yang semampai. Bau wangi parfum ternama menyeruak dari tubuhnya.

Cantik sekali wanita ini, mimpi saya. Andai bisa, akan saya panah hatinya setiap hari dan saya simpan untuk saya sendiri, gumam saya dalam hati.

“Nama kamu cupid kan?” tanyanya dengan nada rendah dan lebih tenang.

“Benar, nama saya cupid si peri cinta. Siapa nama ibu dan apa keperluan ibu memanggil saya?”

“Jangan panggil saya ibu, cukup Yanti saja. Nama lengkap saya Indrayanti Nurfahmi”, jawabnya lengkap.

“Baiklah bu Yanti, eh Yanti”. Gantian saya yang gugup menjawabnya. Sepertinya kecantikan khas wanita Jawa yang ada pada dirinya cukup membius pikiran saya.

“Ada perlu apa ibu memanggil saya?”

“Apa benar tugas kamu memanah hati dua manusia agar saling mencintai dan memiliki?” tanyanya.

“Benar bu, saya diberikan tugas untuk memanah hati manusia. Dengan cara itu saya bisa menyatukan dua hati yang berbeda dalam sebuah ikatan cinta,” jawab saya runtun.

“Pernahkah kamu melakukan kesalahan dalam melaksanakan tugas kamu?” lanjutnya.

Ia bergerak ke samping kiri saya dan memperhatikan sambungan antara tubuh dan sayap saya. Layaknya anak kecil keheranan ia berusaha memegang sayap saya. Terasa tangan lembutnya saat menyentuh sayap. Ia pun seperti tersihir oleh halusnya bulu-bulu di sayap itu.

“Tidak pernah bu, eh Yanti. Saya diciptakan untuk tidak melakukan kesalahan. 100% garansi uang kembali jika Yanti merasa tidak puas,” jawab saya mencoba untuk melucu. Ia pun turut tersenyum.

“Lantas kenapa panah asmara kamu salah sasaran?” kejarnya terus.

“Maksud Yanti?”

“Iya, panah asmara kamu yang untuk saya salah sasaran. Benar saya mencintai lelaki itu. Tetapi ia sudah ada yang punya. Bahkan sudah dikaruniai anak pula”

Seraya menjawab ia berputar ke belakang, sisi kanan dan kembali ke depan.

“Sebentar saya cek dulu” Sebuah gadget seperti ipad saya keluarkan. Warnanya hijau fosfor dan bentuknya seperti hati. Nama lengkap wanita itu saya tulis dan keluarlah data percintaannya.

“Apa itu?” nampak ia penasaran.

“Lovepad namanya,” ujar saya sembari memperlihatkan foto wanita itu yang ada di layar lovepad.

“Segala jenis dan rupa percintaan sejak jaman nabi Adam turun ke bumi ada di sini lengkap. Mau database cerita asli Romeo dan Juliet, Yanti? Atau kisah sesungguhnya dari percintaan di film Titanic yang diperankan Leonardo di Caprio dan Kate Winslet juga ada di sini. Lengkap dan sesuai fakta sesungguhnya”

“Wah, peri sekarang canggih-canggih ya,” tutur Yanti sedikit bengong.

“Di sini tertulis kamu memanah hati lelaki ini sekitar pertengahan November tahun lalu. Itu artinya sekitar 3,5 bulan lalu. Benar?”

“Ya sekitar segitu deh. Pastinya tidak tahu karena tahu-tahu kami sudah janjian,” jawab Yanti.

“Di sini tertulis kamu belum menikah dan ia adalah seorang ayah dari dua orang anak berusia 5 dan 3 tahun. Benar?”

“Ya sekitar segitu deh,” jawab Yanti gelagapan. Tampak mukanya memucat menahan malu.

“Lantas dimana salahnya?”

“Sebentar, kalau kamu memang peri, dimana ia bekerja?” Yanti berusaha mengalihkan perhatian.

Pandangan saya alihkan ke dada wanita itu. Gelagapan ia tutup dadanya dengan kedua belah tangan.

“Apa apaan ini?” tanyanya sedikit membentak.

“Maaf  jangan salah paham. Saya ingin melihat transmiter panah yang ada di dalam tubuh kamu”

“Apa? Jadi kamu bisa melihat tubuh saya. Ini gila, saya gak mau kalau begini caranya.” Refleks ia membalikkan badannya membelakangi saya.

“Bukan begitu bu. Saya bukan diciptakan untuk melihat lekuk tubuh manusia. Itu perbuatan dosa dan saya tidak diijinkan untuk melakukannya.
Saya hanya bisa melihat transmiter yang ada di dalam tubuh. Bagian lain tidak akan bisa saya lihat. Besarnya seperti hati ayam berwarna merah muda berkedip kedip sepanjang waktu.”

Sedikit tenang Yanti membalikkan badannya dan perlahan menurunkan tangan dari dada. Masih ada sedikit keraguan dari wajahnya yang anehnya tampak lebih cantik ketika panik.

“Di dalam hati ibu ada gps tracker. Alat itu memancarkan sinyal yang akan diterima panah asmara yang ada di tubuh lelaki itu. Dari situ baru ketahuan dimana posisi pacar kamu,” terang saya.

“Ok, dari data ini terlihat kalau pacar Yanti kerja di daerah Kuningan kan? Dan ia sendiri tinggal di sebuah perumahan di Cibubur. Benar?”

“Ya benar,” jawab Yanti. Dari wajahnya tampak ia gelisah dan menahan malu.

“Lantas salah saya dimana?”

“Ya kamu salah dong. Dengan perlengkapan secanggih ini harusnya kamu tahu kalau dia sudah berkeluarga. Sudah punya anak. Tapi kenapa kamu tetap memanahnya? Aneh kan? Kalau sudah begini gimana?” ia menghela napas.

“Saya terlanjur mencintainya. Begitu juga dia. Kita sudah tidak dapat dipisahkan. Cinta kami terlanjur melekat kuat. Di lain pihak, ia juga memiliki anak dan istri yang masih ia cintai dan tidak mau ia tinggalkan. Ayo dong, gimana nih?” paksa Yanti.

Tertawa lantang saya mendengarkan pembenarannya.

“Kok malah ketawa sih?” ia bertanya heran.

“Dasar manusia, maunya enaknya sendiri. Saat memulai sesuatu tidak mau berpikir panjang dan jernih. Kalau sudah kacau aja baru deh bingung. Nyalahin orang lain seolah semua ini bukan kesalahannya,” tegas saya setengah berteriak.

Yanti nampak kaget mendengar suara saya. Ia mundur selangkah dan seperti ingin menangis.

“Yanti, saya hanyalah ciptaan Tuhan. Dan seperti sudah dijelaskan, tugas saya adalah membantu manusia. Bagaimana? Dengan memanah hati manusia lain yang sedang kamu sukai. Tidak lebih.”

“Tapi mengapa kamu tidak memeriksanya dulu? Memastikan bahwa ia bukan milik siapapun dan meyakinkan tidak ada masalah di kemudian hari?” ia menjawab dan berusaha tenang.

“Bisa kerja gak sih? Kerja kamu kan mudah. Gak perlu mikir makan, minum. Mau pergi kemanapun tinggal terbang. Kalau begini caranya saya akan lapor atasan kamu. Saya akan bilang ke Tuhan bahwa kamu kerjanya ngawur,” sedikit tinggi nada yang dikeluarkan Yanti.

“Silakan aja kalau mau lapor. Oh ya, titip pesan ya untuk Tuhan. Saya mau upgrade software lovepad nih. Versi yang saya punya adalah 5.20.01. Kata teman teman saya sudah ada versi 5.20.05. Bisa kan?” jawab saya tersenyum. Wajahnya yang marah kembali tenang mendengarkan lelucon saya.

“Kembali ke masalah Yanti, ada dua alasannya. Pertama, jika saya yang melakukan itu, tugas saya menjadi sangat banyak dan lama. Saya harus mensurvey dia, mencaritahu melalui data dan fakta dan memberikan jawabannya ke kamu,” lanjut saya.

“Selain itu, kita beda alam bu. Ibu sebenarnya tidak bisa melihat saya. Nah kalau manusia tidak bisa melihat saya, gimana cara lapornya?” terang saya lagi.

“Alasan kedua dan sesungguhnya, karena semua ini adalah tugas ibu. Ibu punya hati kan? Punya perasaan dan logika. Dalam hidup ibu memiliki norma dan aturan. Punya batasan. Memang terasa mengekang, tapi hanya dengan aturan manusia bisa hidup tertib dan aman dunia akhirat.”

“Harusnya sebelum ibu meminta saya melepaskan anak panah, ibu sudah yakin bahwa ia adalah yang terbaik untuk ibu. Minimal untuk saat itu. Dengan begitu panah ini tidak salah sasaran jadinya. Saya yakin ibu tahu kalau ia sudah berkeluarga. Namun atas nama cinta ibu tidak mau melepaskannya kan?”

“Yah, mudah saja kamu bicara begitu karena kamu bukan manusia. Kamu tidak punya hati dan perasaan. Tidak punya rasa cinta. Emang kamu pikir enak ngikutin maunya hati? Kamu sih enak setelah kiamat pasti masuk surga. Sedangkan saya? Saya harus melakukan banyak hal dan dilarang melakukan banyak hal untuk masuk surga. Itu sangat tidak adil bagi saya,” Yanti berusaha menjawab sambil berlinang air mata.

“Yanti… Itulah kehidupan. Tidak ada yang sempurna dan adil. Bahkan untuk saya yang abadi dan calon pasti penghuni surga.”

” Lihat saya! Semua cupid diciptakan sama. Saya adalah cupid produksi 2005. Secara bentuk saya tidak ada bedanya dengan cupid jaman nabi Adam. Sama persis! Paling cupid jaman sekarang dibuat lebih canggih dengan gadget masa kini dan chip baru. Namun tetap saja, dalam chip itu hanya ada satu tugas dan kami tidak diberi perasaan.”

“Sekarang lihatlah diri ibu! Ibu seorang wanita cantik. Ibu diberi kesempatan oleh Tuhan untuk tumbuh dan berkembang. Dari seorang bayi mungil menjadi wanita dewasa. Dari hanya bisa menangis, merangkak dan akhirnya berjalan. Ibu diberi kesempatan untuk belajar, untuk memaknai hidup. Kulit tubuh ibu bisa merasakan getaran sentuhan. Bibir ibu bisa memberikan kehangatan kecupan. Sedangkan saya? Kulit saya kelu dan tidak ada rasanya. Bibir saya? Hanya pajangan supaya muka saya tidak terlihat aneh. Dan asal ibu tahu saja, mulut saya tidak pernah dipakai untuk bicara. Baru kali ini saja dipakai karena ada komplain dari manusia. Komplain pertama dan saya harap yang terakhir. Apa iya nantinya kami harus punya divisi costumer service?”

“Dari 200 juta manusia di indonesia, tidak ada satupun yang sama sifatnya. Bahkan orang kembar sekalipun. Sedangkan kami? Nama saja sama semua, cupid! Yang membedakan hanya kode registrasi. Nomer saya adalah 05012005. Yang berarti saya lahir tgl 5 januari 2005.

“Dan yang terakhir dan terpenting. Kalian memiliki hati dan pikiran. Kalian bisa mencintai dan dicintai. Memiliki rasa kasih, sayang dan rindu. Kalian bisa menikmati indahnya dunia. Mengeksplorasi kehidupan tanpa batas. Bebas menentukan arah kehidupan sendiri dan menjalaninya dengan sepenuh hati.”

“Sementara kami, ya hanya memanah hati orang saja tiap hari. Tidak ada apapun yang bisa kami rasakan. Titik.”

“Memang kami abadi. Tapi apa tidak bosan jika anda hidup dari jaman majapahit sampai sby? Saya rasa waktu 60 tahun sangat cukup bagi manusia untuk dapat menikmati dan memaknai hidup.”

Tanpa sadar ternyata Yanti sudah terduduk lemas. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia bingung harus melakukan apa. Cupid pun berusaha jongkok di sampingnya seraya memegang pundak Yanti berupaya menenangkan.

“Sekarang kamu paham kan posisi kami? Kekuatan kami dan keterbatasan kami. Memang begitulah adanya semua makhluk di dunia ini diciptakan. Tidak ada yang sempurna karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milikNya.”

“Lantas bagaimana hubungan saya dengan dia? Saya terlanjur mencintainya,” ia bertanya sembari mengangkat mukanya yang sembab.

“Tidak ada yang terlanjur di dunia ini. Kalaupun iya, semua masih bisa diperbaiki,” jawab saya sok bijak.

“Semua ini kan tergantung awalnya, Yanti. Dari awal kamu tahu apa yang akan terjadi dan kamu dihadapkan pada pilihan. Ketika kamu memilih untuk memanah hatinya, kondisi saat inilah resiko dan konsekuensinya. Dan kamu harus siap dengan kondisi ini. Kalau kamu merasa tidak nyaman, inilah saatnya kamu memilih kembali. Bertahan dengannya, atau meninggalkannya. Sekali lagi, dengan segala resiko di balik setiap pilihan.”

“Cobalah ajak hati bicara. Beri ia masukan dari pikiran dan logika kita. Ini karena pada dasarnya hati itu egois. Dia hanya mau tahu benarnya saja, enaknya saja. Kadang hati lupa, dalam hidup ini banyak hal yang dapat mengubah arah kehidupan kita. Hati terlalu naif untuk diajak berbohong.”

“Lindungi hatimu. Jangan biarkan ia terbutakan oleh kata cinta. Mabuk oleh kalimat rindu. Dan terperdaya oleh mantra-mantra kangen. Bukalah mata hatimu agar ia dapat melihat kenyataan secara sempurna. Supaya dapat belajar menjalani dan memaknai hidup. Jika itu berjalan, mungkin kehidupan kita akan lebih baik nantinya,” lanjut saya panjang lebar seperti profesor ceramah.

“Jadi semua terserah pada saya? Jika saya mau mengikat hubungan dengan dia, saya akan menjalani resikonya, sedangkan jika saya melepaskannya, ada resiko lain yaitu kehilangan dia. Tinggal bagaimana saya menilai saja kali ya? Apakah effort saya memadai? Layakkah resiko yang akan saya terima nanti atas pilihan saya?” Yanti berusaha mengambil kesimpulan atas pernyataan saya.

Tangisnya pun hilang dan ia mulai bisa tersenyum kembali.

“Jika saya memutuskan untuk melupakannya, bagaimana cara saya mematikan panah asmara ini?” tanyanya kembali.

“Panah asmara akan mati dengan sendirinya seiring waktu. Tidak ada yang tahu pasti karena itu tergantung bagaimana menyikapinya. Namun bagaimanapun, ibarat luka, meski hanya tergores ia telah meninggalkan bekas di hati. Dan itu butuh keinginan, kekuatan dan keyakinan besar untuk menyembuhkannya. Dan yang pasti, jangan pernah beri ruang bagi luka itu untuk robek kembali. Jika ya, kamu akan kembali mengulang kaset kusut. Tapi saya percaya Yanti bisa selama ingin, yakin dan kuat,” saya berusaha menyemangati.

Perlahan Yanti berusaha bangkit. Saya pegang tangannya dan ia pun tersenyum memegang tangan saya.

Ia pun berujar, “Jadi semua ini tentang pilihan ya?”

“Ya setuju,” saya menjawab

“Ok deh kalau begitu. Saya akan mencoba merenungkannya dan semoga bisa mendapatkan jawaban atas permasalahan saya ini,” jelas Yanti seraya tersenyum lebar.

“Maaf ya cupid, aku telah menghakimi kamu tanpa mau melihat latar belakang masalah dan kebenaran yang nampak. Terima kasih ya atas penjelasannya yang sangat menenangkan dan menentramkan,” Yanti nyerocos sambil memegang kedua tangan saya.

Tak lama ia hendak pergi. Sesaat saya ingat bagaimana ia bisa melihat saya dan saya pun bertanya, “Dari mana kamu bisa melihat saya?”

“Hahaha… Maaf saya lupa memberitahu. Saya diberikan cincin ini oleh seorang teman. Katanya dengan cincin ini saya jadi bisa melihat kamu,” urainya.

“Dan sebagai tanda terima kasih saya dan supaya kamu tidak perlu membuat layanan pelanggan cupid, cincin ini akan saya buang dan saya tidak akan mencari kamu lagi.”

“Okelah kalau begitu, terima kasih atas komplainnya, semoga semua ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Bye Yanti…”

“Bye cupid…”

Perlahan ia berjalan menjauh dan hilang saat masuk ke dalam gedung GKBI.

Nah itulah cerita yang membuat saya gamang dalam menjalankan tugas beberapa hari ini. Saya hanyalah peri. Saya bukan Tuhan yang mampu mengubah segalanya. Dengan segala kelebihan yang saya miliki, saya tetap makhluk yang tidak sempurna.

Anda sebagai manusia telah diberi rahmat luar biasa dengan bisa menikmati hidup di dunia. Tolong manfaatkan kesempatan yang ada dengan lebih bijak. Biarkan kami melaksanakan tugas dengan membantu kalian saling mencintai. Karena cinta itu indah dan beruntunglah manusia karena hanya mereka yang mampu merasakannya. Maaf ya jika terasa menggurui.

Oh ya, jika ketemu Yanti tolong tanyakan apa keputusan dan pilihannya. Tapi yang pasti, apapun pilihannya saya yakin telah melalui pertimbangan matang. Thx ya sudah mau membaca surat saya ini. Saya berharap, tidak ada kesalahpahaman lagi di antara kita.

Warm regards

Cupid 05012005

Categories: fiction | Tags: , , , , , , , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Surat Dari Cupid

  1. El lusi

    Nice and wise story…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: